Lingkaran.net - Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, memaparkan capaian kinerja ekonomi daerah dalam Nota Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Tahun Anggaran 2025 di Rapat Paripurna DPRD Jatim, Senin (30/3/2026).
Salah satu sorotan utama adalah lonjakan signifikan kinerja ekspor yang menjadi indikator kuat ketahanan ekonomi Jawa Timur di tengah dinamika global.
Baca juga: Dindik Jatim Batasi Penggunaan Gadget di Sekolah, Uji Coba Dimulai April 2026
Sepanjang 2025, nilai ekspor Jawa Timur tercatat mencapai USD 30,40 miliar atau tumbuh 16,61 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar USD 26,07 miliar.
Kenaikan ini terutama ditopang oleh ekspor nonmigas yang melonjak 18,17 persen, dari USD 25,19 miliar menjadi USD 29,77 miliar.
“Ini menunjukkan daya saing produk Jawa Timur tetap kuat, bahkan di tengah tekanan global,” ujar Khofifah.
Komoditas unggulan ekspor nonmigas Jawa Timur didominasi sektor perhiasan dan permata dengan nilai USD 6,86 miliar, disusul tembaga USD 2,62 miliar, lemak dan minyak hewani/nabati USD 2,38 miliar, kayu dan produk turunannya USD 1,70 miliar, serta ikan dan hasil laut lainnya sebesar USD 1,33 miliar.
Dari sisi pasar, tiga negara tujuan utama ekspor nonmigas Jawa Timur adalah Swiss dengan nilai USD 4,41 miliar, Tiongkok sebesar USD 4,08 miliar, dan Amerika Serikat mencapai USD 3,75 miliar.
Sementara itu, kinerja impor Jawa Timur selama 2025 tercatat sebesar USD 29,59 miliar, dengan dominasi bahan baku dan penolong mencapai USD 23,51 miliar atau 79,45 persen dari total impor. Hal ini mencerminkan kuatnya aktivitas industri pengolahan di wilayah tersebut.
Beberapa komoditas impor yang mengalami peningkatan signifikan antara lain perhiasan/permata yang naik 94,38 persen, mesin dan perlengkapan listrik meningkat 34 persen, serta pupuk yang tumbuh 28,49 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Baca juga: Susunan Anggota Pansus LKPJ Gubernur Khofifah 2025, Masa Kerja 30 Hari
Adapun lima komoditas utama impor nonmigas meliputi mesin dan peralatan mekanis (USD 2,65 miliar), perhiasan/permata (USD 1,94 miliar), besi dan baja (USD 1,60 miliar), plastik dan turunannya (USD 1,42 miliar), serta ampas dan sisa industri makanan (USD 1,34 miliar).
Negara asal impor terbesar Jawa Timur berasal dari Tiongkok sebesar USD 9,19 miliar, diikuti Amerika Serikat USD 1,48 miliar dan Hong Kong sebesar USD 1,11 miliar.
Untuk memperkuat posisi Jawa Timur sebagai hub perdagangan utama nasional, Pemprov Jatim secara konsisten menggelar misi dagang.
Sepanjang 2025, tercatat 12 kali misi dagang dalam negeri dengan nilai transaksi fantastis mencapai Rp16,31 triliun—melampaui capaian kumulatif 2019–2024 sebesar Rp11,05 triliun dari 36 kegiatan.
Tak hanya itu, misi dagang internasional ke Singapura juga mencatatkan transaksi sebesar Rp4,163 triliun.
“Ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif,” tegas Khofifah.
Baca juga: Waspada Hoaks Krisis Energi, DPRD Jatim Minta Warga Tak Telan Mentah Informasi Medsos
Di sektor ekonomi kreatif, Jawa Timur juga mencatatkan prestasi gemilang dengan meraih penghargaan dalam ajang Indonesia Creative Cities Festival melalui Nusantaraya Award. Jawa Timur bahkan dinobatkan sebagai provinsi dengan nilai ekspor ekonomi kreatif terbesar di Indonesia.
Komoditas unggulan ekonomi kreatif tersebut meliputi fesyen, kriya, dan kuliner yang sebagian besar digerakkan oleh pelaku UMKM.
Khofifah menegaskan, capaian ini merupakan bagian dari kontribusi nyata Jawa Timur dalam memperkuat kedaulatan ekonomi nasional sekaligus menyongsong visi besar Indonesia Emas 2045.
“Inilah persembahan terbaik Jawa Timur untuk Indonesia,” pungkasnya.
Editor : Setiadi