Lingkaran.net - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa optimistis beroperasinya Instalasi Karantina Terpadu JATIM HUB mampu mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD) sekaligus memperkuat efisiensi perdagangan dan logistik ekspor-impor di Jawa Timur.
Menurut Khofifah, fasilitas tersebut menjadi langkah strategis karena mengintegrasikan layanan logistik pangan dan prosedur karantina dalam satu sistem modern yang cepat, efisien, dan transparan.
“Dengan adanya gerbang terintegrasi ini, proses logistik dan karantina tidak lagi berjalan sendiri-sendiri, tetapi saling terhubung dalam satu sistem yang modern dan efektif,” kata Khofifah, Sabtu (9/5/2026).
Ia menjelaskan, Instalasi Karantina Terpadu JATIM HUB merupakan implementasi konsep Integrated Agro-Logistics and Quarantine Gateway yang dirancang untuk mempercepat arus distribusi barang sekaligus memangkas hambatan logistik.
Khofifah meyakini keberadaan fasilitas tersebut akan menciptakan ekosistem perdagangan yang lebih kompetitif melalui efisiensi biaya logistik dan penurunan dwelling time.
“Efisiensi logistik akan meningkatkan daya saing produk Jawa Timur di pasar global,” ujarnya.
Sebagai salah satu lokomotif ekonomi nasional dan lumbung pangan Indonesia, Jawa Timur dinilai membutuhkan sistem logistik dan karantina yang kuat agar seluruh produk yang keluar maupun masuk tetap terjamin keamanan, kualitas, dan legalitasnya.
“Alhamdulillah dengan peresmian Instalasi Karantina Terpadu JATIM HUB ini mulai beroperasi, kami menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Badan Karantina Indonesia karena ini menjadi yang pertama di Indonesia,” katanya.
Lebih jauh, Khofifah berharap kawasan JATIM HUB dapat menjadi gerbang utama produk-produk daerah untuk menembus pasar internasional. Tidak hanya produk industri besar, tetapi juga hasil koperasi, usaha kecil menengah (UKM), hingga industri kecil menengah (IKM).
“Kita ingin produk-produk daerah, termasuk produk Koperasi Merah Putih, UKM, dan IKM, tidak hanya beredar di pasar domestik, tetapi juga mampu bersaing di pasar global,” tegasnya.
Menurutnya, JATIM HUB juga akan dilengkapi pembinaan dan pendampingan agar produk koperasi, UKM, dan IKM yang telah masuk skala ekspor mampu memenuhi standar negara tujuan.
“Karena di sini juga ada pembinaannya bagaimana produk dari koperasi, UKM, dan IKM yang sudah masuk skala ekspor bisa masuk standar ke negara tujuan,” ujarnya.
Khofifah menambahkan, salah satu tantangan terbesar yang selama ini dihadapi pelaku usaha adalah lambatnya distribusi barang dan tingginya biaya logistik.
Di tengah persaingan perdagangan global, kecepatan layanan menjadi faktor penting dalam menentukan daya saing produk.
“Di tengah persaingan perdagangan global, kecepatan layanan menjadi bagian dari daya saing,” katanya.
Karena itu, Pemprov Jawa Timur mendukung penuh integrasi layanan karantina dan logistik agar distribusi barang menjadi lebih cepat, efisien, dan memiliki kepastian layanan bagi para pelaku usaha.
Editor : Setiadi